MEMBUDAYAKAN BAHASA DAERAH, BAHASA INDONESIA DAN BAHASA INGGRIS DALAM SISTEM MBS

”Penggunaan   bahasa seharusnya  disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Bahasa Daerah, kalau berada di tengah keluarga,  saudara, atau acara adat  istiadat, Bahasa Indonesia ketika berinteraksi dengan orang di luar atau dalam situsi formal dengan begitu terjalin persatuan, dan menggunakan bahasa Inggris sebagai komunikasi dengan dunia Internasional”.

A. Pendahuluan

Kesadaran berbahasa merupakan modal penting dalam mewujud fungsikan berbahasa yang positif. Apalagi dengan tantangan era globalisasi. Era globalisasi ditandai, antara lain, oleh adanya kontak bahasa dan budaya yang tidak bisa terelakan. Dalam hubungan itu, kedudukan bahasa yang hidup dan diperlukan dalam kegiatan berbangsa dan bernegara perlu dikukuhkan. Untuk memperkukuh kedudukan bahasa dalam era globalisasi itu, upaya yang sungguh-sungguh perlu dipersiapkan dan dilakukan baik dalam berbagai aspek substansial kebahasaan maupun aspek kelembagaan.[1]

Upaya  terpenting adalah dilakukan oleh pendidikan dengan suatu system yang terorganisir, yatu sekolah.  Aktifitas yang dilakukan di sekolah merupakan suatu aktifitas yang mengasyikkan, menyenangkan karena dapat memperoleh berbagai hal yang ingin  diketahui. Berbagai harapan yang ditumpukan ke sekolah menyebabkan sekolah senantiasa berusaha mengadakan perbaikan, terutama bagaimana menempatkan bahasa yang beraneka ragam ke posisi yang  sesuai dengan tuntutan zaman, namun tetap melestarikan kebudayaan lama. Hal ini untuk menjaga kepunahan budaya daerah karena hadirnya bahasa resmi dan bahasa asing.

B. Bahasa Daerah sebagai Identitas Budaya

Kepunahan bahasa, terutama bahasa daerah, menjadi masalah serius yang juga perlu perhatian pemerintah dan masyarakat. Sebab, proses kepunahan bahasa ini akan diikuti dengan kepunahan budaya dan pada akhirnya kepunahan masyarakat. Padahal, bahasa adalah refleksi dan identitas yang paling kokoh dari sebuah budaya. Untuk itu, upaya serius dalam menyelamatkan bahasa-bahasa daerah perlu dilakukan sehingga Indonesia tetap menjadi negara yang bhineka tetapi tetap bertunggal ika.

Arief  Rachman Hakim dalam orasinya yang berjudul  “Kepunahan Bahasa daerah karena Kehadiran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris serta Upaya Penyelamatannya“ – pada saat pengukuhannya sebagai guru besar bidang ilmu pendidikan bahasa Inggris pada Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta (FBS- UNJ), Selasa (22/5) – mengatakan:

“Kondisi bahasa-bahasa daerah di seluruh dunia yang sangat banyak ini ternyata hanya digunakan oleh minoritas masyarakat dan tergeser oleh bahasa-bahasa yang dianggap lebih universal, seperti bahasa Inggris dan bahasa resmi negara masing-masing. Indikasi ini mencerminkan bahwa bahasa-bahasa daerah yang masuk dalam kategori bahasa mayoritas, tetapi minoritas pemakaiannya, secara perlahan akan mengalami kepunahan. Anak-anak sekolah digiring untuk beranggapan bahwa bahasa Indonesia dan (bahasa) Inggris menjadi superior dibandingkan dengan bahasa ibunya. Kondisi ini diperparah sikap orangtua di rumah yang juga tidak memakai bahasa daerah dalam berkomunikasi.”

Dalam konteks Indonesia, kata Arief, memang tidak ada bukti yang dapat dikemukakan bahwa kehadiran bahasa Indonesia ataupun bahasa lainnya, seperti bahasa Inggris, menyisihkan kedudukan bahasa daerah. Akan tetapi, ada indikasi atau kecenderungan pemakaian bahasa Indonesia dan bahasa Inggris untuk kepentingan tertentu—termasuk dalam pendidikan formal—membuat kedudukan bahasa-bahasa daerah menjadi lemah.

Menurut Arief, perlu dibuat program-program penyelamatan bahasa daerah yang terancam punah melalui kegiatan-kegiatan strategis. Bahasa daerah juga perlu diberi peran yang berarti dalam kehidupan modern, termasuk pemakaian bahasa lokal pada kehidupan sehari-hari, perdagangan, dan pendidikan.(sumber: www.kompas.co.id)[2]

C. Upaya Menyelamatkan Bahasa

(Rancangan Undang-undang Bahasa, Melindungi Bahasa Indonesia dan Daerah)

Identitas budaya sebuah bangsa bisa dilihat dari bahasanya. Bahasa bisa berfungsi sebagai “Lingua Franca” artinya, bahasa bisa digunakan sebagai alat perhubungan, pengantar, juga sebagai perantara. Dalam Undang-Undang Dasar 45 pun, tertulis bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia.   Bahkan isi Sumpah   28 Oktober 1928, menyatakan : Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia

Ketika perkembangan Bahasa Indonesia yang menjadi identitas dan bagian nilai budaya sedang menghadapi gempuran luar biasa dari budaya mancanegara, kita baru sadar, mau dibawa kemana Bahasa Indonesia sekarang? Itulah sebabnya, Rancangan Undang-Undang tentang bahasa,  kembali dikaji.

Pengkajian RUU Bahasa ini digagas Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) usai membuka Dialog Budaya Indonesia-China yang berlangsung di Unika Atma Jaya. Mendiknas Bambang Sudibyo mengatakan,    “Departemen Pendidikan Nasional melalui Pusat Bahasa, saat ini sedang mengkaji rencana pengajuan Rancangan Undang-Undang tentang bahasa.”[3] Menanggapi usulan rencana pengajuan Rancangan Undang-Undang Bahasa itu, tentu saja ada yang pro dan kontra. Sebab, jika nanti UU Bahasa Nasional diberlakukan, ototmatis akan menelurkan sejumlah aturan di tingkat lebih rendah yang mengatur tata pemakaian dan pengembangan Bahasa Indonesia.

Bahasa dengan risiko punah diistilahkan sebagai endangered language. Indikatornya, apabila pemakainya sudah berhenti total atau masih dipakai orangtua, tetapi tidak diturunkan kepada generasi berikutnya. Terpojoknya bahasa daerah disebut sebagai efek niscaya dari globalisasi.
Dominasi bahasa resmi pada jenjang pendidikan formal menggiring anak-anak berpersepsi bahwa bahasa tersebut superior dibandingkan dengan bahasa ibunya. Lama-kelamaan hal itu mengikis kebanggaan menggunakan bahasa leluhurnya, yang diangap sebagai bahasa yang sudah uzur.

Di Indonesia, bahasa daerah secara hukum relatif terlindungi. Ada dua kekuatan yang memayungi eksistensi bahasa daerah. Dalam UUD 1945 Pasal 36 disebutkan, negara menghormati dan memelihara bahasa daerah yang masih digunakan penuturnya, karena bahasa tersebut merupakan bagian dari kebudayaan indonesia yang hidup. Lalu Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah menyebutkan bahwa pemerintah dan pemerintah provinsi wajib melakukan pembinaan bahasa daerah.

Hanya saja, secara de facto, penutur bahasa daerah tetap saja menyusut. Ilmuwan Jon Reyner membagi delapan tingkat situasi sebuah bahasa. Bahasa yang kuat ditandai dengan pemakaian pada tata pemerintahan, pendidikan, dan media massa. Sedangkan bahasa yang lemah ditandai dengan mengecilnya jumlah penutur. Penggunaan bahasa di tempat kerja dalam sebuah lingkungan khusus dinilai sebagai indikator baik bagi kelangsungan sebuah bahasa.[4]

D. Aplikasi dalam Dunia Pendidikan

( Pengunaan Bahasa Daerah, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris dalam Sistem Pendidikan Manajemen Berbasis Sekolah ).

Pendidikan, baik formal maupun nonformal, adalah sarana untuk pewarisan kebudayaan. Setiap masyarakat mewariskan kebudayaannya kepada generasi yang lebih, kemudian agar tradisi kebudayaannya tetap hidup dan berkembang, melalui pendidikan dan pengembangan MBS. MBS bukan hanya dilihat dari sekedar pergeseran tata-tata kerja manajemen sekolah semata. Tata kerja baru tersebut harus dipahami dalam konteks yang paling strategik, yaitu dalam aspek implementasi kurikulum dan mutu pembelajaran. Para penggagas MBS berpendapat bahwa tata kerja baru manajemen sekolah harus difokuskan pada upaya untuk meningkatkan kinerja profesional tenaga kependidikan dalam penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar bagi para siswa dan menjadikan sekolah sebagai tempat yang menyenangkan untuk belajar[5].

Sudah lama banyak orang mempertanyakan pendidikan kita, mengapa hasilnya tidak memperkuat dan mengembangkan budaya sendiri? Mengapa bangsa kita mudah larut dalam pengaruh budaya yang datang dari luar? Mengapa budaya asli kita tidak dapat menahan banjir bandang globalisasi yang datang? Pendidikan kita selama ini menjadi sarana pewarisan budaya atau tidak?[6]

Pertanyaan-pertanyaan itu, merupakan reaksi yang timbul dari keterkaitan bahasa yang tidak bisa dielakkan dalam era globalisasi. Disinilah peran pendidikan sangat dibutuhkan.  Karena dalam Pendidikan akan dipelajari perlunya memisahkan pemakaian bahasa Daerah sebagai bahasa Ibu, bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, dan bahasa Inggris sebagai bahasa Internasional.

Penggunaan   bahasa seharusnya  disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Artinya menggunakan bahasa Daerah, kalau berada di tengah keluarga, dengan saudara, atau acara adat  istiadat. Lalu, menggunakan bahasa Indonesia ketika berinteraksi dengan orang di luar atau dalam situsi formal dengan begitu terjalin persatuan, dan menggunakan bahasa Inggris sebagai komunikasi dengan dunia Internasional.  Untuk  itu , mesti ada aturan yang mengatur pemakaian bahasa ini. Tetapi diiringi dengan kesadaran berbahasa, misal  yang menggunakan bahasa ibu dalam keluarga dan menggunakan bahasa Inggris bila di lingkungan yang menuntut untuk berbahasa Inggris[7]

Selain itu, untuk melindungi dan mengembangkan bahasa daerah, tentunya dapat dimulai dari pembinaan bahasa di sekolah. Seperti halnya pengajaran Bahasa yang dipakai sebagai pengantar dalam belajar mengajar adalah bahasa ibunya sampai kelas tiga SD, dan teori pun membuktikan pelajaran itu akan mudah dipahami dengan menggunakan bahasa yang dimengerti oleh anak dan membuat anak lebih cepat mengerti.[8] Dengan begitu, anak punya pemahaman akan bahasa Nasional dan membantu untuk berbahasa Daerah. Memang pada saat ini belum ada rancangan khusus untuk hal pelajaran bahasa daerah  di sekolahan, sehingga   rancangan tersebut hanya direalisasikan oleh segelintir guru yang menyadari pentingnya unsur kebahasaan tersebut dalam pembelajaran. Oleh karenanya, untuk memetakan pemerataan rancangan kebahasaan, sebaiknya di sekolah juga diberikan porsi khusus untuk pembelajaran bahasa daerah.

DAFTAR PUSTAKA

Charlotte S.Huck and Susan Hapler janet Hickman,1987,Children’s Literature in   The Elementary School: Holt, Rinehart and Winston, New York,

Prof. Dr. H. Djam’an Satori, MA, Seminar Sehari Manajemen Berbasis Sekolah- paper (Pangkalpinang, 2004)

http://www.depdiknas.go.id/jurnal/53/editorial.htm

http://www.bapeda-jabar.go.id/bapeda_design/dokumen_informasi.php?t= 13&c=100

http://clearinghouse.dikmenum.go.id/content.php?cid=8&sid=25&id=147

http://www.gatra.com/versi_cetak.php?id=105364

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0408/05/pddkn/1164164.htm

http://www.ganto-online.com/index.php?option=com_content&task =view&id=147&Itemid=71


5 thoughts on “MEMBUDAYAKAN BAHASA DAERAH, BAHASA INDONESIA DAN BAHASA INGGRIS DALAM SISTEM MBS

  1. Dalam hal bahasa daerah, saya setuju dengan Andrea Hirata yang keukeuh menulis Belitung dengan Belitong. Barangkali kita juga bisa keukeuh,menulis Air Hitam dengan Aik Item….Rasanya lebih familiar

  2. tulisan yang bagus serta kritis….. jadi kesimpulan tulisan diatas apa? menggunakan bahasa daerah untuk mempertahankan budaya kita atau membiaskan bahasa inggris untuk bisa interaksi dengan dunia internasional…?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s