AMELIA

Aku meringis. Perutku perih dan terasa melilit. Tapi aku ngak bisa makan. Bukan karena aku ngak punya makanan. Bukan pula karena orang tuaku tak mampu. Penyakit paru-paruku mengakibatkan mulutku lecet, bahkan sudah menjadi korengan sampai merusak kulit sekitar mulutku. Sakitnya..ampuuun!! Perih sekali. Hal itu menyebabkan aku disebut sebagai balita gizi buruk atau marasmus.

…..

Pagi ini..kulihat ibuku sibuk berkemas. Kudengar dari pembicaraan ayah dan ibu, Om Budi, petugas dari Puskesmas Sungaiselan akan membawa aku berobat ke Rumah sakit. Ih..Rumah sakit?? Aku bergidik. Pasti disana banyak jarum suntiknya. Pasti disana disuruh makan obat yang banyak, besar-besar, dan pahit itu. Belum lagi disana aku akan mendengar ibuku ditanya-tanya seperti orang yang bersalah dan dituduh tidak becus mengurus aku. Ah..kasihan ibu… padahal badannya sudah sekurus itu karena terlalu capek mengurus aku, memikirkan aku, dan lelah mengkhawatirkan aku. Aku merengek-rengek. Tapi ibu dengan sabar membujukku. Bilang bahwa aku akan diajak jalan-jalan, naik mobil dan bertemu dengan Om Budi. Aku suka Om Budi. Walaupun kumisnya menyeramkan, tapi Om Budi selalu bilang aku cantik.

….

Tin…tin… klakson mobil Om Budi terdengar di depan jalan depan rumahku. Aku melambaikan tangan kepada semua orang yang memandangku. Mata ibu memandangku miris. Ibu..aku ikhlas dibawa berobat ke Rumah sakit. Aku mau sembuh!! Aku pengen bisa jalan. Aku mau makan banyak. Aku mau ibu bahagia memandangku. Aku ingin membuat ayah bangga kepadaku.

….

Ke rumah sakit umum. Ternyata dokternya baik. Tak seperti yang aku bayangkan sebelumnya. Ibuku tidak dimarah-marah, malah dinasehati supaya sabar. Ku dengar Om Budi bilang ke  Ibuku, bahwa pengobatanku gratis karena pakai JAMKESDA. Apa Jamkesda itu ya?? Dan ada bantuan dari pejabat di daerahku untuk berobat.

“Kita ke Rumah sakit Bakti Timah, ya Teh. Tadi kita mengobati paru-paru Amel. Sekarang kita ke dokter kulit”, ujar Om Budi ke ibuku.

Di rumah sakit Bakti Timah aku di bawa ke dokter kulit.. aku mulai merengek. Aku capek. Aku lapar. Aku haus. Aku lemas. Sungguh..aku ngak kuat. Terengah-engah tubuh kurus ibuku menggendongku. Membawa ke kantin. Sesampai di sana, aku dikerumuni orang-orang yang memandangku iba. Dan seperti dugaan awalku, ibuku terus ditanya-tanya, diinterogasi, .. Duh!! Sekali lagi kasihan ibuku. Aku harus makan, supaya ibuku senang. Perlahan ku buka mulutku, memakan sedikit demi sedikit perkedel kentang dengan beberapa butir nasi. Tatapan aneh orang-orang disekelilingku tak kuhiraukan. Aku ingin sembuh!!

….

Pengobatan hari ini selesai. Aku pulang. Dalam hati aku merintih, batukku semakin menjadi. Ya Allah.. beri aku kesembuhan. Agar aku dapat ceria seperti anak-anak seusiaku, agar aku bisa membahagiakan kedua orang tuaku.  Aku, AMELIA, gadis kecil berusia 2 tahun 6 bulan dengan berat 5 kg, selalu berharap: AKU SEHAT. Tolonglah doakan aku.

19 thoughts on “AMELIA

  1. jangan hiraukan tatapan aneh orang-orang itu , Amel sayang..
    setiap semangat Amel adalah harapan bagi kesembuhan Amel..
    teruslah berjuang , nak..
    semoga ALLAH memberikan yang terbaik menurutNYA..
    banyak do’a yang tercurah untuk kesembuhanmu

  2. Semoga adek amel cepat sembuh ya… semoga kedua orang tuanya tabah dan sabar dalam menghadapi cobaan ini, amiinn…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s