Catatan Kecil Sang Bidadari (Amelia 2)

Segarnya air putih yang diminumkan mimih untukku membuatku lega. Mimih…ibuku yang sangat sabar. Tak pernah aku mendengar keluhan darinya, tak pernah ku dengar kekesalannya dengan penyakit yang kuderita selama hidupku.

Awal Desember di hari Rabu…. Seorang Ibu datang ke rumahku. Mimih mengangkat tubuhku..  “Assalamualaikum Amel..”. Kutatap Ibu ini. Ibu yang akhir-akhir ini sering ke rumahku. Aku ingin tersenyum padanya. Berterimakasih atas perhatian tulusnya padaku dan ibuku. Tapi perih dibibir dan sekitar mulutku tidak membawa senyum yang manis untuk ibu yang penuh perhatian ini.

” Eteh.. gimana kabar Amel?” tanya sang ibu sambil memegang tanganku.

” Belum ada perubahan, Bu. Kemarin korengannya sudah agak kering dari obat dokter kulit. Tapi setiap kali kering, dia menarik kulitnya, sehingga yang kering itu kembali berdarah. Mungkin agak gatal ya, Bu?”

” Iya sih… Amel sayang, Ngak boleh ditarik-tarik lagi ya… ” Kata sang ibu sambik mengusap-usapku.

” Makannya gimana, Teh?”

“Mih… bakwaaan.. ” Aku langsung menyela pembicaraan mereka dengan minta bakwan kesukaanku. Pernyataan itu sebetulnya ingin kukatakan kepada Ibu ini, bahwa aku sudah mulai banyak makan. Benar. Ibu itu kelihatan sangat senang. Meminta mimih untuk segera membelikan bakwan. Ketika bakwan datang, aku langsung makan dengan lahap. Pamer.

….

Satu minggu setelah itu.. Aku kembali batuk. Parah sampai aku muntah-muntah. Ya Allah..sakiiit sekali.

….

Sabtu malam minggu.. 26 Desember 2009

Nafasku sesak. Tapi entah mengapa aku tak lagi merasa sakit. Ada cahaya berpendar disekelilingku. Indah sekali. Mengajakku bermain. Dan aku melompat. Aku sehat, bisa berjalan, bahkan menari-nari mengikuti cahaya indah itu. Ada banyak teman yang cantiknya seperti aku. Cahaya itu membuat aku sangaaaaat nyaman. Aku tak bisa jauh dari cahaya itu. Mengapa begitu indah??

Tiba-tiba aku teringat papa, mimih, teteh dan aak ku. Tapi…cahaya itu memanggil-manggilku dengan lembut. Mengajakku terbang, menari, bernyanyi, dan bermain. Aku diajaknya kerumahku yang indah. Istana megah. Aku tak mampu menolaknya. Aku mengangkat tangan. Kulambaikan kepada Mimih yang kucintai. “da..da..Mih.., da..da.. Pa.., da..da.. Teh. Aku mau pulang. “Kulihat Mimih menangis. Tapi tangisan itu terdengar merdu ditelingaku. Seakan mengizinkanku untuk pulang ke rumahku yang indah itu.

Aku terbang.. Kembali menari dan tertawa bahagia. Aku bagaikan seorang bidadari. Aku berjanji akan memeluk mimih nanti. Dirumahku yang indah. Dengan cahaya yang gemerlap dan menawan.

(Selamat Jalan Amelia… Kebahagiaan yang Hakiki Menunggu Amel di Sana. Kami Selalu Merindukanmu. Semoga Keluarga diberikan Ketabahan. Amin…)

7 thoughts on “Catatan Kecil Sang Bidadari (Amelia 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s